Kisah tragis dan memilukan ini bukan sandiwara apalagi sebuah rekayasa untuk mendongkrak popularitas si “Empunya” blog ini ….huahahahaha.. huakk..huakakakaa  artis yahh.. atau sok artis.. tapi hanya dan cuma ingin, hehehe cepetan kata si bungul. mau ngomong apa sih… ok deh akan kupuaskan hasratmu yang sudah cukup lama tertunda… hiahahah ngomong apa sih…. yah ngomongin gue dan lho… lho siapa ? yah lho ente…. wahahahaa… yah gue ma ente lah.. kalau gue ngomong sendiri bisa di angkut ke rumah sakit jiwa.

Ternyata gini-gini dulu saya memang sudah punya bakat bajingan.. buktinya sempat tersematkan nama “raja bajingan”.. wahahahaha…. oh ya tahun 1994 – 1995, cukup banyak kisah seru dan unik yang tak akan mungkin terlupakan. Mungkin buat sebagian orang itu biasa aja atau bahkan menjadi kisah memalukan, tapi bagi saya itu adalah kenangan “terindah” dan tak akan pernah tergantikan oleh kisah-kisah apapun dalam hidup ini…

oh ya pada zaman itu, hiduplah saya bersama temen-temen yang datang dari segala penjuru daerah, ada yang “dibuang” seperti saya dan tidak sedikit juga yang terbuang sehingga hampir kita semua sangat pasrah dan menikmati keadaan itu. kisah ini adalah cuplikan kehidupan santri putra di Sebuah tempat yang bernama Teritip. oh ya kita semua saat itu Khususnya angkatan saya memang cukup beragam suku dan budayanya, dari flores ada amin umar dan rohibun ahmad, dari jeneponto, hasanuddin “tumping” ali, dari palu ismail dan syarif, dari bulukumba, saya, saiful, taufik, syahrir bm, sutiar, dari lamasi Isa Abdullah, dari dari Sorowako ada kasrianto (maaf gak ditulis pak haji karena waktu itu belum pak haji, haiaiaiahha), dari Gowa Ramli dan Dasri, ada Oscar dan Ismail sang Putra Sesumpuh, dan Iwan dari Balikpapan seberang, serta Risalman dari Toli-toli, dan beberapa anak warga seperti fauzan azima, opik hasyim, yudi wakiyo, nasruddin dm dan masih banyak lagi yag tidak bisa kami sebut satu persatu. Namun satu yang pasti bahwa kami semua hidup sangat sederhana dan bahkan kalau bisa disebut cukup kekurangan. Makan pagi nasi putih Plus air sayur kangkung namun nikmatnya sangat luar biasa, makan siang, nasi putih + tempe/tahu sepotong /ikan goreng sebesar kelingking anak bayi😀 keterlaluan ? Korupsi ? hahahha nggak karena kami semua memang saat itu cuma makan, tidur, sekolah semuanya gratis pokoknya 24 jam selama 10 tahun semuanya gratis, tis tiss tissssssssssssssssss…. Oh ya… dari beberapa angkatan kami sebenarnya berbeda-beda masuknya ada yang agak senior seperti Risalman, Amin Umar, Rohibun, dan saya serta beberapa yang lain yang memulai pendidikan dari Diniyah atau angkatan 1989. dan beberapa yang lainnya itu langsung masih jenjang Tsanawiyah seperti Taufiq dan Syaiful.. hhehheheee

Oh ya petugas dapur umum putra saat itu adalah Bapak K.H Almukarram Ali Kalang, Semoga Allah melimpahkan berkah kepada diri beliau dan seluruh keluarga beliau, kanda Darmansyah, saudara umar dan seluruh keluarga besarnya. Mungkin saat ini nama-nama tersebut diatas sudah cukup asing ditelinga kecuali temen-temen yang masih bermukim di gunung tembak sampai hari ini,