OLYMPUS DIGITAL CAMERAIni dongeng bukan untuk anda, dia ataupun kita, tapi untuk mereka yang disana, yang duduk manis dalam damai dan dinginnya ruangan sambil sesekali mungkin menghirup teh panas yang terhidang…  ufhtt sungguh nikmatnya hidup ini…. Pagi ini pengen menuliskan sebuah “dongeng” yang nyata. yah mirip sebuah dongeng atau mungkin cerita halusinasi namun bagi saya ini betul-betul nyata. nyata bahkan sangat nyata karena saya dan DIA yang langsung mengalaminya…

Manusia memang pada dasarnya baik, cuma terkadang situasi dan kondisi yang membuat manusia itu seperti menjadi tidak baik, mengingat jauh kebelakang kenangan itu masih begitu segar entah 5 tahun yang lalu, disini ditempat ini ku menghabiskan sebagian besar hidupku mengabdi kepada agama, nusa dan bangsa, mencari nafkah untuk melanjutkan hidup. Pekerjaanku memang tidak berat (bukan kuli panggul semen kok… ) namun tidak juga mudah, (bukan anggota dewan) namun yang pasti panas matahari menjadi temen sepanjang hari (resiko menjadi kuli). Kegiatan sehari-sehari dimulai dari pukul 6.30 pagi dan baru berakhir pukul 18.00 bahkan sangat sering berakhir pukul 21.00, namun yang menjadi kenangan tersendiri bukan capeknya kerja dan di marahi, tapi seiring perjalanan waktu manusia-manusia disekelilingku telah mengalami banyak sekali perubahan, mulai dari yang dulunya jelek sekarang tambah jelek, itu ngomongin diriku sendiri yah.. sampai dari pak yusuf yang tadinya bujangan ehhh tiba-tiba dah punya anak 5 rupanya…. dan tak lupa dari yang tadinya gaji Rp. 5.000 sekarang sudah menjadi Rp. 5.000.000 dalam 5 tahun… sungguh luar biasa kan… bahkan mungkin sepertinya kayaknya kira-kira  (tebak-tebakan) ada yang telah merubah DNA -nya sehingga beberapa hari terakhir ini saya setiap hari selalu mendapatkan senyuman yang begitu renyah. Bagi orang lain senyuman itu biasa saja, karena tentunya dia tidak mendapatkan yang sebaliknya 5 tahun yang lalu…

Dulu zaman apa yah ? …. Zaman aku masih miskin lah… (sekarang miskin banget), rutinitas kerja begitu padat dan melelahkan, heehhe jadi ingat kata-kata penghibur Ibu Nuning Sagita yang baik hati dan tidak sombong serta rajin minta coklat hehehe juga rajin di tempati curhat dan minta tolong yang entah sekarang kemana rimbanya. Tapi dulu masih ingat banget ketika saya melakukan kesalahan berulang ulang dan berulang ulang serta berulang ulang, dan sering banget terulang ulang, biasanya langsung di semprot, ” eiii songong pulang kampung sana tanam kacang, ngurusin karyawan 100 orang lebih aja amburadul gini, lihat saya harus ngurusin berapa ratus karyawan” (dan ibu gak pernah salah). kerja itu yang becus biar gak bolak balik, aku tau kamu capek bolak balik office siang hari begini tapi gak mungkin saya yang rubah, makanya jangan sampai salah lagi gak tega saya lihat kamu..

Entah beberapa tahun kemudian begitu banyak cewek yang harus menangis kena semprot beliau termasuk partner kerja saya Ibu Erlina Rachmayanti  juga harus kebagian kata-kata “songong” karena memang betul-betul songong,, hahahahahah dan tentunya masih banyak lagi karyawan seperti saya yang harus dan “wajib” kena semprot, Waktu itu terlah berlalu, semua sudah berubah dan aku disini berdiri hanya bisa memandang perubahan yang terjadi begitu cepat tidak sedikit yang sudah menikah dua kali (termasuk pak situn,, hahaahah), tanpa terasa saya ternyata sudah menjadi “Kuli paling Senior” sekaligus mungkin manusia yang paling sering marah-marah tak jelas + Manusia yang paling dibenci (karena terpaksa mecat sesama kuli) + manusia paling cerewet (lhaaa memang saya digaji untuk cewereeettt atau cereweeett gituww). Tapi apapun aku kini itu semua kenangan terindah dan menyedihkan yang mungkin tak akan terlupakan.

Melewati 5 tahun bukan hal yang bisa dibilang mudah dan gampang, begitu banyak hal yang pahit yang kadang membuat saya berdecak kagum, kok ada yah manusia seperti itu yang serasa hampir tidak punya hati dan perasaan, mudah-mudahan ini hanya perasaan saya aja dan kayaknya memang perasaanku saja. Rasa ini kadang memunculkan nilai patriotisme merah putih, memang kalian “bangsat” para pendatang yang telah menjadikanku tamu di negeri sendiri. yang telah membuat aku menjadi “seperti” pengemis yang sangat pantas dan layak untuk di hina dan tidak perlu punya harga diri karena miskin. Namun ternyata aku salah, inilah era dimana profesionalisme tanpa pandang ras dan golongan, siapapun anda dan saya ketika anda profesional maka anda berhak untuk mendapatkan posisi sesuai keinginan anda, jika tidak Issengi Alemu (ukur dirimu sendiri).

Pernah suatu ketika aku menelpon ”

saya = Bu… saya ada dibawah kangen ma ibu neh mau ngantar kue epo epo😀   mau ngantar (tiba-tiba di potong,…………….)

ibu = ok tunggu bentar dibawah yahh pak… 5 menit lagi saya turun..

saya = ia makasih banyak bu,,  (sambil pegangan di kursi karena takut jatuh pingsan)

ibu = ia sama-sama pak

Ehmm…. sambil nunggu di lantai I dengan tetap pegangan pada kursi takut jatuh pingsan, seumur – umur gue mondar mandir belum pernah dengar saya di panggil pak ,,, (padahal pengen banget di panggil papa… wakakakakak) belum lagi perasaan ini campur aduk, hari ini “DIA” bilang terima kasih ke saya…… luar biasa………….. dalam hati berucap,, tuhan semoga semua dosa-dosanya diampuni tuhan dan ditempatkan disisi-Nya dihari kemudian kalau bisa sekarang aja dipanggilnya tuhan biar cepat dia ada disisimu…..wekekekeke..   Amiinnn

Tak lama kemudian kurang lebih 1/4 abad terdengarlah bunyi sepatu / sandal. bunyinya bang bing bung… gedebuk gedebak gedebukk… lho pikir pacuan kuda… semakin lama suara itu semakin mendekat dan semakin besar aja bunyinya… tik tak tuk, pak pik puk,,, heheheheeh bunyinya agak nyaring (sepertinya massa lebih berat kayakx) betul aja begitu muncul ternyata semua impianku berubah heheh bukan impian angan-anganku salah ternyata pemirsa…  terjadilah percakapan😀

ibu : maaf yah ibu gak masuk, mau ngantar bom yah (plus senyuman tipis)

saya : ia ibu ini mau ngantar bom tapi ada bla bli blu nya (ada penjelasan karena itu dan ini belum ini dan itu )

ibu : ohh ok nanti besok saya sampaikan, kalau ada yang kurang jelas nanti besok coba kesini lagi (plus senyuman manis banget)

saya : ok makasih bu… nanti besok saya kesini lagi (sambil berdoa tuhan sayangilah dia tapi jangan panggil dia sekarang )

Sebenarnya kami-kami ini gak butuh lebih, karena saya (bukan kami yahhh) sangat mengerti kemampuan kami, kami gak pernah merasa kamu itu “penjajah” justru kalian itu bagi kami adalah jalan tuhan untuk menyalurkan rejeki kami, sebab bagaimanapun kami bekerja dan berdoa tetap harus ada jalannya untuk rejeki itu datang. Ku ucapkan terima kasih karena kalian mau datang ke Negeri Leluhur kami membantu perekonomian kami dan membuat kami bisa hidup layak, terima kasih yang tak terhingga ku haturkan kepada keluarga kalian yang telah rela kalian tinggalkan demi kami keluarga barumu disini, memang kami tak seindah kampung halamanmu, juga tak seindah kehidupan keluargamu, tapi kami masih berusaha memberikan yang terbaik untukmu dan keluargamu.

Kirimkan salam terindah untuk mereka, namun satu yang kupinta darimu dan anggaplah ini permintaan dari anak-anakmu,

Tolong berikan kami Senyumanmu,

berikan kami rasa empatimu,

berikan kami harapan,

tuk menjalani hari depan kami.

Terimah kasih buat guru besar ku Seluruh Staff Accounting

Terima kasih buat ibu “HELEN TAMBA” atas senyuman renyahnya… salam terindah buat suami dan anak-anaknya..