Bismillahirrahmani rahim… ya Allah aku menulis ini bukan karena menyesali nasibku tapi sekedar pelajaran buat saya pribadi semoga saya tidak lupa, buat orang yang membacanya up to you what in your mind…. alias sakarepmu lah….. heehehe.

Hidup memang  tidak lepas dari yang namanya resiko, dan setiap resiko pasti cuma 2 kalau bukan menyedihkan pasti menyenangkan. ahh macam betul aja juga gue nehh….tapi kayaknya g semuanya resiko yang kita jalani di akibatkan oleh perbuatan kita sendiri, bisa jadi orang lain yang berbuat tapi kita yang kena resikonya… contohnya, karena kepolisian indonesia korup maka kita kena imbasnya ?? heheh salah satunya adalah …….. hahaha takut ahh ntar gue di penjara lagi tapi coba liat kiri kanan kita, apakah seseorang yang mau menjadi polisi baru tidak butuh biaya banyak  ?? kalau di sekitar saya seh nggak ????? (oon : mode on) ntah klau disekeliling kalian.. hehehehe..

Ups.. hampir lupa 2 bulan yang lalu ngurus sim.. begitu masuk langsung “di terkam” ma anggota polisi yang bertugas.. mau nego atau tidak ??? nego 800 rebu, g nego silahkan urus surat kesehatan di bagian belakang, dan ikuti semua prosedurnya.. heheheee udahlah gue kan orang kaya (gaji sebulan 50 juta tambah korupsi gue 4 milyar, klau cuma segitu mah 800 rebu ahh…… cementtt..) begitu masuk ruangan untuk melakukan proses photo hehehe kaget gua… tiba-tiba ada yang permisi.. bentar yach bang saya mau shalat dulu…… (heheeh ternyata si rampoknya mau shalat juga)..  ok lah guyss… sebenarnya gue ma dia bagi2 hasil rampokan juga, gue g di test gue g ambil surat kesehatan ehh tiba-tiba gue dapat sim… jadi fifty-fifty lah dosanya yah pak polisi…

btw… apa hubungannya ama pak polisi.. betul juga memang kata si dudul si penjual tiket yang latahnya g terukur lagi, mulai dari cylitink, sampai penyebutan nama yang g pernah benar.. suprianto di tulis supriono, bahwa aku memang kadang suka g nyambung.. .. betul-betul… inilah buktinya…

1. Decision maker atau trouble maker “Ketika aku harus pergi meninggalkan sekolahku di gunung tembak”

Btw saya teringat ke beberapa puluh tahun yang lalu, dimana saya harus mengambil putusan pahit, ketika saya dalam kebimbangan,  entah kenapa sampai hari inipun saya tidak tau alasan apa yang ada dalam otakku saat itu, saat itu saya baru saja naik ke level aliyah atau setingkat smu..  ehhmm.. saya mencoba mengingat dan menggali lagi sisa-sisa memori yang mungkin masih tersimpan, tapi yang tersisa hanya kenangan buruk tentang perlakuan kehidupan asrama yang harus mandiri, tegar dan tentunya berani. yang tersisa hanyalah kenangan ketika saya terpojok pada sudut ruangan setelah ditampar dengan kerasnya oleh saudaraku ahmad taufiq yang ternyata dikemudian hari saya  tau dia adalah sepupuku sendiri, tapi itulah asrama, kehidupan keras yang mendidik seseorang untuk menjadi mandiri, tegar dan juga keras. yang tersisa dari otak usangku ini adalah bagaimana ketika aku di aniaya oleh pak Suardin sampai mataku harus menghitam dan bahkan darah membeku pada pupil mataku, tanpa aku tau alasan yang jelas, tapi itulah asrama dimana kekuatan fisik hampir menjadi penentu keberhasilan. Belum terlupakan betapa takutnya aku ketika harus bertemu dengan orang-orang yang berbadan besar dan hampir semuanya jauh lebih besar secara fisik dari aku, sedikit saja aku melakukan kesalahan mereka pun tidak akan pernah segan untuk memberikan hukuman secara fisik. kini aku punya alasan sepihak kenapa waktu itu terpaksa bahkan tidak sadar harus pergi dari kampus tercintaku.. “aku teraniaya oleh fisikku” . aku tidak mau lagi ditempeleng ali husen celly anaknya pak husen celly sampai saya tidak bisa melihat pintu keluar, saya tidak mau lagi ditempeleng oleh si juned putra papua, saya tidak mau lagi hak-hakku terinjak oleh siapapun juga dengan alasan apapun juga dengan berbagai bentuk apapun..

yang aku ingat saat itu adalah, bahwa aku harus membalas perlakuan mereka, terlalu sakit rasanya menjadi orang kecil secara fisik, hampir tidak punya hak sama sekali, aku berjanji bahwa tak akan pernah ada orang yang pernah menyakitiku lagi setelah aku melarikan diri dari sekolah ini, siapapun dan bagaimanapun juga”

Berbekal niat itulah, ketika tiba waktunya pencarian dana (bulan puasa adalah waktunya santri gunung tembak ditugaskan keluar dari sarang untuk mencari dana di beberapa daerah di kalimantan timur, seperti bontang, samarinda, balikpapan, penajam, tanah grogot dan lain), maka ketika itu saya terpilih kembali ke daerah sepinggan (balikpapan) karena tahun sebelumnya saya sudah melakukan pencarian dana disana, saya sungguh senang karena impian saya untuk belajar bela diri akan segera terwujud dan tentunya aku tidak akan pernah lagi di aniaya secara fisik. akhirnya  setelah memantapkan pencarian lagi saya jumpa dengan pak Johana dia kebetulan seorang pelatih taekwondo namun akhirnya gagal setelah dia hanya bisa melatih secara fisik, analisa saya bagaimanapun kuatnya saya secara fisik g mungkin bisa kalahkan risalman kalau mau gulat… heheh mau ajak adu fisik sama yang lebih besar ?? g mungkin buanget.. ahirnya saya melakukan pencarian perguruan bela diri tenaga dalam yang menurut analisa saya lebih bagus… (heee setelah liat mas nanang praktekkan di lapangan sepakbola di gunung tembak waktu itu).. akhirnya saya menjumpai di gunung malang depan sekolah SDN ada papan nama PERGURUAN BELA DIRI TENAGA DALAM JOKO SUPO, akhirnya setelah tanya-tanya ternyata tempat latihannya bukan di situ tapi diatas gunung malang atas.. akhirnya setelah nelpon beberapa kali saya akhirnya bertemu dengan orang yang berperawakan sangat kecil bahkan kurang lebih dengan body saya tapi ternyata dia adalah guru besar dari PBTD joko supo.

akhirnya sepulang dari gunung malang saya mulai merasa menemukan sesuatu yang selama ini saya cari, sekarang malah sudah mulai bertempur isi otak. keputusan apa yang harus saya ambil, meninggalkan sekolah untuk belajar bela diri atau mencoba bertahan paling tidak 1 tahun lagi ?…. sejak itulah saya mulai kehilangan konsentrasi untuk belajar, setelah pulang dari mencari dana (setelah lebaran) maka saya secara diam-diam saya sering meninggalkan sekolahku di gunung tembak menuju gunung malang dengan menumpang mobil pak mustofa yang kebetulan berangkat ke terminal damai (terminal dam adalah terminal yang menghubungkan angkutan dari daerah dengan angkot ke tengah kota). di pagi hari. rutinitas itu sering saya lakukan pada saat pelajaran di kelas. akhirnya setelah mencoba shalat istikharah yang saya sendiri g tau gimana melihat petunjuknya saya nekat meninggalkan sekolah saya untuk belajar ke PBTD joko supo di gunung malang, cukup banyak kisah unik setelahnya, saya merantau ke malaysia, lewat tarakan, ke merotai besar, terus ke merotai kecil, terus pulang lewat nunukan tanpa passpor, dan terus ke makassar.

sampai hari ini saya g tau apakah itu keputusan yang salah atau keputusan yang benar ??? hanya Waktu yang akan menentukannya.

2. Decision maker atau trouble maker “Harus kuliah padahal sama sekali saya g punya uang”

Betapa berat rasanya mengambil keputusan untuk harus kuliah sementara sang ayah sendiri Drs. H. Muh. Arsyad sudah memastikan bahwa untuk kuliah dia tidak punya duit tapi buat nikah ada, pilihan yang sulit aku ambil tanpa punya siapapun yang bisa ditemani untuk berbagi kisah suka duka, ibu jauh di negeri seberang sana, ayah ada tapi lagi “miskin”.. sampai hari ini pun aku g tau apakah keputusanku ini salah. yang jelas yang aku sesali adalah aku di wisudah setelah kuliah selama 7 tahun.

3. Decision maker atau trouble maker ‘Keputusan meninggalkan makassar menuju batam”.

ini mungkin keputusan kedua terbesar dalam hidupku yang saya ambil yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memutuskannya. kenapa ? karena ini sudah bicara masalah ambisius pribadi kerja atau kuliah lagi ? akhirnya karena benturan dana akhirnya memilih batam untuk bekerja sambil kuliah walaupun pada akhirnya tetap tidak bisa kuliah. padahal di satu sisi saya punya ibu yang sudah tua yang harus saya jaga yang akhirnya tinggal di gubuk tua tanpa listrik di tengah kebun, berat rasanya meninggalkan ibu yang sudah berpisah puluhan tahun, kini baru juga ketemu tapi harus berpisah lagi dalam jangka waktu yang tidak sebentar ??? maafkan aku wahai ibu ku jika ini salah. Ya Allah ampunilah dosa hambamu ini jika apa yang saya lakukan ini adalah sebuah kesalahan… Astagfirullahal Azim…

4. Decision maker atau trouble maker ‘Keputusan harus meninggalkan batam demi sesuatu yang tak pasti”.

inilah keputusan terbesar dalam hidupku yang tersulit yang pernah saya ambil. betul-betul keputusan yang saya sendiri tidak pernah punya alasan yang kuat untuk mendukung pikiran alam bawah sadar  saya. saya hanya punya satu alasan terlanjur niat dan nazar, saya harus berusaha sebelum Allah menegur saya. tapi sebenarnya apakah persiapan saya sudah cukup ???? tentunya sangat jauh dari cukuup tapi kenapa saya nekat ????? entahlah itulah gilanya saya dan mungkin inilah gila saya yang bisa jadi menjadi penyesalan, semoga saja tidak.

Beribu saran dan masukan datang silih berganti menyambar-nyambar kupingku, dari orang tuaku tercinta, Om muslimin, Om Husaini, Om Yusuf (sebentar lagi  jadi om juga). dan masih banyak temen-temen yang lain yang menyarankan untuk mengurungkan niat dulu untuk pergi meninggalkan batam tapi niat terlanjur menggumpal di hati ini bahkan hampir menutup segala jalur pikiran untuk mencoba sedikit memberikan ruang alam bawah sadarku untuk membela. Jujur memang secara ekonomi, walaupun terhitung rendah tapi bagi bujangan seperti saya gaji 4 juta lebih sudah lebih dari cukup kalau hanya untuk belanja saja. belum lagi permintaan terakhir dari orang-orang yang saya sayangi yang masih sangat mengharapkan saya untuk bergabung di batam, masih teringat jelas ketika Om muslimin setiap kali nelpon selalu meminta saya untuk kembali ke Batam, tapi entahlah saya begitu keuh-keuh dengan obsesi meninggalkan batam, entahlah sayapun kadang kehabisan akal, namun yang selalu yang mendering di kepalaku adalah investasi ilmu jauh lebih baik di bandingkan investasi harta. tapi investasi ilmu juga butuh investasi harta, entahlah yang jelas sekarang ini aku telah menjalani keputusan besar yang sudah saya ambil, saya cuma kadang menghibur diri, saya sudah terlalu tua, kalau saat ini saya menunda lagi untuk mengejar ilmu, kapan lagi adapun toh jika saya gagal atau terbentur saya hanya bisa berkata saya sudah berusaha.. semuanya terpulang kepada Mu ya Allah..

ya Allah semoga keputusanku ini tidak salah, tidak melukai hati dan perasaan siapapun juga, dan juga tidak mendatangkan murkamu, ya Allah Restui dan Ridhoilah jalan yang telah ku ambil ini, meninggalkan semua yang telah membuatku senang selama ini, sedih rasanya ketika harus meninggalkan batam walaupun hanya untuk sementara, begitu terkenang orang-orang terbaik yang pernah saya miliki, rasanya tak sanggup meninggalkan mereka, aku telah menemukan orang-orang terbaik dalam hidupku namun mungkin karena itulah aku punya semangat yang  juga kuat untuk kembali menimba ilmu, aku berjanji pada kalian suatu saat aku akan kembali untuk membagi ilmu yang telah saya dapatkan, tolong doakan aku setiap saat karena hanya kalianlah orang-orang yang masih peduli denganku…

semoga kesedihan ini menjadi tawa di ahir waktu nanti dan Amin…