ahh……. sore ini tepat pukul 18 Wib tak terasa air mataku kembali bercucuran dengan derasnya dalam sudut kamar yang gelap ini. entah kenapa hari ini aku begitu tergugah kembali dengan harapan dan cita-citaku yang hampir terlupakan.

walaupun sebenarnya aku menangis dari tadi malam (Sariawan bro….. heheeh) namun pagi sampai sore ini sepertinya ada yang lain. hari ini tak seperti biasanya aku meliburkan diri hanya karena alasan tidak bisa ngomong alias sariawan yang melanda bibir dan lidah ini. walaupun saya akui itu cukup parah namun sebenarnya ada beban di kepala yang sudah sedemikian beratnya.

aku rasanya baru tersentak kembali sepertinya baru bangun dari tidur panjangku, setelah sekian lama mencoba menarik diri dari dunia internet ternyata cukup berpengaruh pada pola pikir dan semangat hidupku, mudah-mudahan saja ini bukan tanda kegilaan dalam diriku. kegiatan rutinitasku yang bangun pagi jam 5.20 berangkat kerja kemudian pulang kerumah jam 18.00 selama ini sepertinya tak memberiku lagi ruang untuk berkembang.

tapi satu alasan pasti kenapa sore ini air mataku kembali mengalir. aku sangat sadar diumurku yang kepala tiga ini belum ada sesuatu yang bisa aku banggakan. aku terlalu pesimis entah karena disetiap aku bekerja selalu di embeli-embeli dengan tulisan jabatan walaupun sebenarnya hanya tipuan belaka, sebab jabatan yang tertulis di slip gaji tidak pernah sesuai dengan kenyataannya.

aq kadang heran dan kembali bertanya sebenarnya takdirku kayak gimana seh, yang seperti apasih yang orang lakukan biar orang bisa sukses, menurutku persetan dengan kebahagiaan dalam kemiskinan menurutku itu omong kosong belaka. ungkapan itu hanya untuk membela orang miskin yang malas. sebab aku sangat yakin ketika orang mau bekerja serius dan belajar serius maka tidak akan ada orang miskin. tapi setelah rentang 20 tahun aku menjalani semuanya kembali aku bertanya. betulkah keyakinanku itu.

klau menurut pengalamanku semua itu bisa didapatkan dengan usaha kerja keras dan disiplin dan tentunya doa. menilik kebelakang perjalan hidupku yang “tidak indah”. semuanya yang akan saya dapatkan mesti dengan sebuah usaha yang sangat maksimal karena memang saya harus memulainya dari nol. rasanya hampir semua yang saya dapatkan dalam hidupku tidak ada yang mudah dan gampang. yang masih jelas dalam ingatanku ketika aku harus memulai kuliah di STIMIK handayani, menurutku betapa susahnya aku menginjakkan kaki di bangku kuliah yang saat itu harus aku perjuangkan seorang diri. masih terasa hangat dikuping suara dari Bapak ku Drs. H. Muh. Arsyad (guru agama di SMP  Negeri Batuasang Kec Herlang, Kab Bulukumba).

begini ucapnya saat itu.

sekarang setelah sekian puluh tahun kau pergi tanpa pamit (liat postingan aku sebelumnya ketika aku harus menjadi maling). kini kau datang meminta untuk di kuliahkan. tidak dan tidak akan pernah itu, aku tak punya duit untuk menyokolahkan kamu, cicilan hajiku belum lunas, cicilan motorku belum lunas gimana aku bisa biayai kuliah kamu, sementara ibumu sekarang bukan ibu kandungmu lagi. kamu harus ingat bahwa semua biaya hidupmu harus dibagi dua (dari umur 0 tahun sampai tamat sd aku tidak pernah hidup lebih dari 1 minggu dengan ayahku, setelah tamat sd aku “terbuang ke kalimantan selama 10 tahun”) jadi baru ketemu dan minta izin untuk kuliah setelah umur 19 tahun. satu kata kunci yang diberikan padaku, kalau untuk kuliah aku tidak punya uang tapi kalau untuk nikah saya ada uang dan itupun biayanya harus ditanggung berdua oleh ibu kandungmu (waktu itu ibuku masih jadi tki di malaysia timur).

akhirnya aku pasrah dan tentunya sadar bahwa aku tak mungkin berharap banyak dengan bapakku. aku berfikir mencari jalan yang lain, ada beberapa petak kebun (kebun yang  ditanami jagung di kampung didaerah dohung) yang bisa di “pasanra” hehehe istilah indonesianya apa yachh.. artinya kebun itu aku sewakan ke orang suatu saat ketika aku punya duit kebun aku ambil kembali dan duitnya aku kembalikan.. .. hehehe itu adalah salah satu kebiasaan kami di kampung khususnya di desa dwitiro.

akhirnya karena kebetulan aku memang anak tunggal dari ibu dan bapakku dan kebetulan ada 2 petak tanah yang lumayan strategis (dekat dari pinggir jalan), akhirnya bisa mendapatkan pinjaman (duit pasanra dari orang).. heheh lupa aku namanya.

hehehe jadi ingat sama si “bi’la (kuda yang setia menemaniku mencari orang dari mulai dohung, batang, sampai samakore). ehehehehe…

akhirnya setelah aku mendapatkan duit sebesar 1.5 juta rupiah berangkatlah aku ke makassar dan mendaftar di STIMIK Handayani mengambil program D1 jurusan manajemen informatika dan komunikasi.hehehe akhirnya bisa juga menjadi mahasiswa.

disinilah rasanya aku mulai meretas hidup dan masa depan, meminta sesuap nasi dari panci tante-tanteku ke panci sepupu-sepupuku yang lain, hingga akhirnya aku bisa tamat D1 sayangnya aku masih belum mendapat kepercayaan yang sama dari bapakku untuk bisa melanjutkan ke Jenjang s1. namun kudu nekat akhirnya aku mendaftar juga sebagai mahasiswa transfer ke S1 jurusan teknik informatika dan komputer. perjalanan panjang dimulai semuanya serba sulit aku tidak pernah bisa meminta kepada siapapun untuk biaya kuliah terasa sekali betapa indahnya penderitaan saat itu. titip nadir aku putus asa sewaktu aku menjadi pengangguran setelah berhenti mengajar di LPBB di A.P Pettarani Makassar, aku ingat persis waktu itu aku harus membayar dikampus namun aku tak punya duit sama sekali hingga akhirnya aku pasrah untuk tidak pernah lagi melanjutkan kuliah. saat itu saudara tercintaku iswandi bertanya kepadaku, mau kuliah ndak ? aku bilang sudahlah aku berhenti kuliah aja biar kamu aja yang pergi kuliah ini motor kamu pake pergi.itulah pertama kali aku putus asa dalam hidupku. waktu itu aku lagi duduk termenung di warnet Netzone.

dan akhirnya betul saudaraku tersebut berangkat kuliah, namun sepeninggal dia justru muncul penyesalanku ah bangganya diriku suatu saat nanti klau bisa melewati ujian ini. akhirnya setelah itu semangatku bangkit kembali dan akhirnya aku bisa menyelesaikan studi pada tahun 2007 . hehem angkatan 1999 cukup senior sampai diwisuda.

namun setelah sekian tahun rasanya waktu berlalu kini aku terpojok kembali disudut ruangan ini mencoba kembali membuka memori masa laluku, jujur aku saat ini adalah bukan aku yang pernah kubayangkan. entah baik atau buruk tapi yang jelas aku tidak mau mati dengan kondisiku yang seperti ini. sekarang musuh terbesarku adalah umurku yang sudah tidak mudah lagi. klau dulu aku bisa berusaha keras semaksimal mungkin karena memang saya masih muda dan tentunya fisik masih sangat kuat (jalan kaki dari Jl. Andi Mappanyukki ke Jl. Latimojong untuk main warnet di VistraNet itu adalah hal biasa) sekaligus dilanjutkan berjalan kaki ke dekat masjid raya untuk mengambil Pete2 yang melewati Gedung DPRD  (depan kampusku).

cita-citaku masih terlalu jauh rasanya, Gelar S2 luar negeri adalah impian terbesarku saat ini, haruskah aku kembali ke titik nol lagi, entahlah, tapi itulah yang membuat air mataku menetes tak tertahankan sore ini. ketika aku melihat foto-foto teman-temanku dan sepupu-sepupuku aku rasanya langsung berkata, tuhan tidak adil, kenapa saya tidak pernah berhenti menderita ? tapi yang jelas saya salah karena menyalahkan tuhan, tapi bukankah mereka begitu mereka menikmati semuanya dengan enak, mereka kuliah tinggal minta duit dikasih, butuh baju baru tinggal kirim sms, butuh apapun tinggal bilang ke ortu mereka. sementara saya untuk bisa membeli motor tersayangku honda supra X DD 2721 RE saya harus berdiri mengajar dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam setelah itu pulang disambung lagi dengan jalan kaki dari Simpang Lampu Merah Pettarani menuju rumah tempat aku menyuap nasi di daerah hartaco dengan jembatan pabentengan. berjalan kaki saya tempuh selama 2 jam baru sampai dirumah, belum lagi biaya kuliah, sudah tak terhitung kerjaan mulai dari ikut kernet mobil kampus jurusan unhas sampai kernet mobil daya, jadi instruktur jadi guru dan seterusnya. kadang saya memang berfikir kata-kata bahwa mana ada orang tua yang mau liat anaknya sengsara itu adalah sangat relativ sekali. mungkin seandainya ortu saya miskin saya tidak akan pernah meminta ataupun berharap tapi ini kasusnya lain disaat saya butuh uang pembayaran kuliah ayahku justru buat pagar mewah, disaat saya butuh biaya wisuda ortuku justru beli rumah tanah. dan disaat saya pengen melanjutkan study ke s2 ayahku malah membangun rumah dengan omzet ratusan juta rupiah (walaupun yang nempatin cuma dia berdua aja).

tapi kadang terbersit dihati kecilku inilah nikmat yang diberikan tuhan kepadaku, sebab seandainya mungkin aku seperti mereka mungkin tidak bergairah membuat blog ini karena mereka mau nulis apa ? toh tidak ada susah dalam hidupnya toh kalau ada susah mereka masih bisa berteriak mama papa. hehehe sekedar menghibur diri..

tapi haruskah aku menangis kembali di lain waktu hanya gara-gara gelapnya masa depan s2 di negeri orang ? mustahilkah itu semua ? kalau melihat kondisi sekarang rasa-rasanya mustahil dan sangat jauh dari harapan. rutinitasku selama ini tidak mengarah kesana. tapi aku kembali bertanya ini sama mustahilnya ketika aku harus menyelesaikan studiku di stimik sementara saat itu saya pengangguran dan makan pun hanya numpan ma saudara iswandi.

tapi ketika aku harus yakin bahwa itu tidak mustahil saya harus bisa melihat kenyataan bahwa ini negeri orang ini kampung orang, ahh sejuta rasanya pertanyaan yang menggelayuti benakku sampai saat ini..

MUSTAHIL KAH AKU MELANJUTKAN STUDI S2 KE NEGERI ORANG….. Ahhhh………….

tolong doakan aku yachhh……….  jangan biarkan aku menangis lagi di kemudian hari…..