Yachh……… i am sorry my father………. lucu aja rasanya hidup ini…. ahhhh jadi pengen nulis pertama kali berprofesi jadi maling…
Oh yachh.. ini pengalaman saya jadi maling pada tahun 1988 atau 89 yachh… pokoknya waktu itu sudah tamat dari sekolah dasar deh.. atau…. masih sekolah mungkin atau pokoknya sekitar tahun itu deh..

oh yachh.. aku tinggal bersama ibuku dan nenekku sementara bapakku tinggal puluhan kilometer dari kampung aku. dia dikecamatan Herlang dan aku dikecamatan Bontotiro… heheheh jauh kan… ? jadi biasanya hari sabtu sore sepulang sekolah aku datang kerumahnya yach tentunya naik angkot bro… dua kali ganti angkot… terus pulang lagi minggu sore karena harus sekolah pada senin pagi.

Alkisah…. suatu waktu saya berkunjung kerumah bapak saya di daerah Gunturu kecamatan Herlang Kab. Bulukumba Provinsi Sulawesi selatan Negara republik Indonesia. tau nggak negara itu ??? itu lho negara yang presidennya hanya senyum-senyum liat institusi dibawahnya bagi-bagi uang pajak…. belum jelas juga ???? pokoknya negara yang jenderalnya mengungkap borok masing-masing gara-gara pembagian jabatan dan uang hasil korupsi tidak merata….
belum tau juga… cari aja daftar negara korupsi urutan ketiga dari atas dehhh….. ahah.. mau cari yang di nomor 1 liat aja negara yang mayoritas penduduknya islam….. hahahaha sudahlah…..

suatu ketika saya mengunjungi rumah bapak saya yang ada di dekat Kompleks SMP N 1 Herlang. rumahnya saat itu masih rumah kayu sebagaimana rumah khas sulawesi. maklum saya berasal dari keluarga miskin dan tidak punya apa-apa sama sekali, jadi waktu berkunjung ke rumah bapak + ibu tiri yach lumayan kaget juga seh dapat makanan yang enak-enak.hehehehe. dikampungku makanan utama beras jagung kecuali orang-orang yang sudah kaya…….. makan beras padi hanya ada pengantin atau lebaran, kalau level orang miskin seperti aku ya makanan utamanya pake beras jagung.. hiks hiks hiks hikss….

oh yach yang aku ingat waktu itu habis makan nasi aku di kasi makan pisang susu (namanya di kampung loka dadi..hehehee), heran juga seh mungkin kok habis makan nasi terus makan pisang lagi.. tapi yang aku ingat persis waktu itu adalah pisang susunya aku habisin kayaknya 1 sisir deh… (padahal itukan cuci mulut doang habis makan 1 atau 2 biji dah cukup)… yach namanya orang dari kampung kasian… yah walhasil kena omel deh tuh ama ibu tiri gue St. Suharti S.Pd yach habis yang salah gue sendiri seh… makanan cuci mulut di habisin….. iam sorry mom…..

oh yachhh tapi sejujurnya saat itu aku heran kok aku makan dimarahin yang biasanya kalau dikampung aku makan tidak pernah dimarahin kecuali kalau belum matang…. atau mungkin punya orang… lha kalau punya sendiri silahkan makan sepuas hati. yach mungkin karena memang aku tak punya etika jadi orang kali yachh..ahirnya setelah dimarahin atau mungkin dinasehatin seribu pertanyaan muncul dalam hati ohhh.. gini toh yang namanya ibu tiri hahahahahaha… belum kata orang sekejam-kejamnya ibu kota lebih kejam ibu jari… (hehehehehe. bagaimanapun juga dia ibuku…… haahahahah cuihhh.. cuihhh……………nyemprot deh ke muka lho….)…

Ketika kembimbangan itu datang, jiwa mudaku kembali bergolak apalagi saat itu aku harus melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. kedua orang tuaku sudah sering bertemu untuk membicarakan kemana aku melanjutkan sekolah, aku ditawarin bapak untuk ikut dia biar aku dekat dengan sekolah karena waktu itu bapak adalah Guru Agama di SMPN 1 Gunturu dan Ibu Tiriku waktu itu adalah Guru Bahasa Indonesia di sekolah yang sama. tapi pada akhirnya aku menolak sebab mungkin jiwa kecilku tidak cocok dengan ibu tiriku saat itu atau mungkin masalah naluri atau mungkin masalah kejiwaan karena aku memang gila… i dont know it..yg jelas waktu itu aku belum mendapat keputusan. kalau mau ibuku seh aku dibawa kepesantren aja biar jadi Kyai…(asal jangan jadi guru agama seperti bapaknya aja.hhahahaha versi ibuku lho yachh…).

akhirnya setelah menunggu cukup lama ibuku punya tekad bulat bahwa saya harus sekolah bukan pada sekolah bapakku dan sayapun ikut setuju, akhirnya kusampaikanlah niatku itu pada bapakku tapi ternyata bapakku sangat tidak setuju. yang terjadi kemudian adalah aku jadinya malah sering dimarahi kalau sampai kerumah bapak. heheh jadi lupa… setiap aku kerumah bapak aku tidak pernah lupa membawa Keris (badik ukuran 1 jenkal).. dan kemana-mana keris itu selalu aku bawa baik waktu mau tidur ataupun mau makan pokoknya keris itu tidak pernah aku lepas dari badanku…. (sudah ada bakat pembunuh…..hehehhe untung g jadi)..

setiap pagi bapak dan ibu tiriku pergi ke sekolah dan tinggallah saya menjaga rumah. hehehe.. entah apa yang aku rasakan saat itu tapi yang jelas tekanan bathin begitu dahsyat (mungkin di akhirat nanti mau ku tanyakan ama ibu tiriku dehhh……..) yang jelas yang aku ingat bahwa sampai aku besar waktu itu aku belum pernah merasakan belaian kasih dari seorang bapak. kata ibuku tersayang sehh aku ditinggal bapak Umur 6 Bulan…. hhahahahah kasian banget gue..

akhirnya suatu pagi setelah semuanya berangkat sekolah aku nekat membongkar seluruh isi lemari bapakku buku-buku, pulpen, baju, sarung, dan keris yang aku dapatkan dibawah kasur (ternyata bapakku juga menyimpan badik dibawh kasurnya.. takut kali aku tikam..) terus aku masukkan dalam sebuah Koper (wahahha istilahnya sekarang apa yachhh kayak travel bag gitu modelnya). aku isikan sampai penuh seluruh barang-barang yang berharga menurutku mulai dari atk sampai baju dan sarung bapakku (tapi saya tidak mencuri perhiasan lho dan barang berharga lainnya, karena niatan saya bukan mencuri tapi memberikan pelajaran kepada mereka)… bayangin aja kalau bajunya bapakku bisa jadi selimut tuh.. terus buku-buku album gitu buat apa untuk level anak sd sepertiku ?? terus sarung diambil banyak2 (mungkin 2 atau 3 buah) buat apa ????? terus badik aku ambil buat apa juga.. toh saya juga punya kok artinya bukan niatku mencuri kok…. pleaseee aku bukan maling kok..

setelah cukup menurutku (pemikiran anak SD…) ahirnya aku pikullah itu koper turun dari rumah, tentunya saat itu aku sangat keberatan karena dari rumah bapakku ke luar jalan raya masih di tempuh 700 Meter dengan berjalan kaki lagi. dan yang lebih ngeri lagi adalah bahwa tentunya koper itu jauh lebih besar dari saya kan… jadi ketika saya naikkan di pundakku orang-orang pasti heran tapi karena atau itu Anaknya Pak Haji… (haji orang indonesia gitu lho…. ).

setelah sampai di jalan raya akhirnya saya naik angkot menuju satu daerah yang namanya Bontotangnga (persisnya kecamatan Bontotangnga). oh yach saat itu angkot masih susah banget hanya jalur-jalur tertentu aja yang ada itupun masih sangat sedikit. niat saya saat itu tidak mau pulang kerumah ibuku karena pasti saya dimarahin jadinya saya memilih mau lari ke kebun aja biar bapakku tidak bisa mencari saya. akhirnya ketika sampai di Bontotanganga persisnya di simpang 4 menuju bontotiro dan samakore saya turun dari angkot (tentunya dengan 1000 pertanyaan dari orang-orang disekitarku saat itu, kok ada anak kecil bawa koper yang jauh lebih besar dari ukuran tubuhnya mana sendiri lagi.) tapi syukurlah mereka cuek bebek kok.

Setelah turun dari angkot mulailah saya berjalan menuju daerah yang bernama samakore yang mana waktu itu belum ada aspal apalagi mobil angkot semuanya masih jalan berbatu dan berkerikil tajam. maka aku pikullah barang itu menuju rumah omku yang merupakan adek kandung dari bapakku (namanya Om Wahid yang sekarang masih bekerja di malaysia barat). jarak aku mikul koper itu lumayan jauh mungkin 7 kiloan lebih kali yachh… wah pasti capek banget dong saat itu. sesampainya dirumah omku (waktu itu omku sudah kerja di malaysia barat) saya ketemu ama tanteku namanya Tante Suri (kayaknya nama panjangnya Suriyani… hheeehe tolong diperbaiki.. siapa nama mace’mu fira ?? kulupai nama panjangnya). aku juga lupa kira-kira gimana caranya waktu itu aku bohong yachh tapi kayanya aku bilang koper itu mau ku bawa pergi sekolah (saya g tau apakah waktu itu dia buka isinya apa atau gimana) akhirnya kayaknya dia percaya-percaya aja,, hehehe maaf tante yachh kalau aku dah bohong.

oh yach waktu itu ada adek tanteku. ckckkck siapami lagi namanya itu yang ku ingat waktu itu aku ke kebun untuk mengambil air jaraknya dari rumah cukup jauh ngambilnya pun ramai-ramai karena memang kampung itu susah airnya sampai sekarang seh kayaknya.(oh yachh waktu itu om ama tanteku masih miskin tapi sekarang uhh………. udah kaya banget rumahnya aja udah ratusan juta, lantai 2 lagi belum lagi saham dan investasinya dimana-mana). aku tidak ingat persis tapi yang ku ingat saat itu secepatnya aku harus melanjutkan pelarianku ini sebab kalau tidak kayaknya tante dan adek tanteku udah mulai curiga dengan kelakukanku deh.. akhirnya sore harinya saya nekat melanjutkan perjalan menembus hutan menuju rumah keluargaku yang lain. oh yach saat itu aku mau menuju rumah Nenek Isa (nama anaknya siapa yachh… ehhmm puang rajakati, puang hajaming… hehehehe tinggal ingat itu aja lagi).

nama kampung nenek isa ini benjala depan buhung la’bua (buhung la’bua dalam bahasaku adalah sumur panjang, sumur ini memang panjang bentuknya kayak kolam gitu semua orang bebas ngambil air disini, sumur ini juga pas di belakang mesjid) perjalanan dari samakore menuju benjala ini melewati hutan dan jalan setapak, yang mana jalan ini hanya lebih banyak dilewati kuda dan sapi sebab memang kiri kanannya adalah kebun jagung. mungkin ketika aku berjumpa para petani mereka heran kok ada anak kecil mikul koper yach mana kopernya besar lagi untung aja waktu itu tidak ada yang merampok aku. ehhehehe mau rampok ambil aja toh tidak ada juga yang berharga yang aku curi kok. akhirnya setelah melakukan perjalan cukup melelahkan malam harinya tibalah aku di rumah puang hajaming (rumah nenek isa). entah apa jawaban aku saat itu ketika ditanya dari mana bawa koper besar seperti. tapi kayaknya aku jujur bahwa aku telah mencuri barang-barang dirumah bapakku di kecamatan herlang  (oh yachh daerah nenek isa ini udah beda kecamatan lho namanya kecamatan bontobahari). waktu itu kebetulan ada 2 anak laki-laki puang hajaming yang seumuran dengan aku dan dia sayang banget ama aku karena waktu itu aku sering ajarin belajar kalau malam hari dan pada siang harinya sepulang sekolah aku temani dia pergi menggembala sapi. jadinya aku ada aktifitas rutin deh menggembala sapinya puang hajaming tapi setelah anaknya pulang sekolah, dan yang lebih membuat aku seneng disini aku g pernah dimarahin lagi. hehehee.. rutinitasku setiap anaknya puang haming pulang sekolah bermain sambil menggembala sapi-sapinya dikebun.

disisi lain tentunya heboh dong ibuku saat itu entah seperti apa karena tiba-tiba saya menghilang setelah dari rumah bapakku, begitu juga bapakku pasti menuduh ibukulah yang telah menyuruh saya mencuri barang-barang dirumahnya. heheeh g kebayang tuh hebohnya mereka gimana yachh (tapi jangan dibayangkan waktu itu langsung lapor ke polsek. hemmm saat itu polisi masih = hantu bo… benar salah tetap bonyyo=hancur). ahirnya mereka pasti saling mencari informasi kiri kanan (saya sampai hari ini g tau gimana bapakku ketika pulang kerumah terus rumah dalam keadaan terbongkar gitu).

akhirnya setelah beberapa hari aku menjalani pelarianku di rumah nenek isa pada suatu hari saya pergi menggembala sapi tapi karena hari itu hari jumat saya wajib pergi shalat jumat (hahaahha.. saya dulu waktu kecil g pernah ninggalin sholat, apalagi sholat jumat pasti shaf paling depan), dan disinilah akhir dari pelarianku, sebab waktu yang baca hotbah adalah Kakekku (bapak kandung dari bapakku), spontan saja sementara baca khotbah langsung menunjuk saya untuk di jaga jangan sampai kemana-mana. yach memang seh Kakekku adalah ulama di daerah benjala sekaligus juga sebagai guru SD, aku sering banget ikut kakekku waktu itu pergi khotbah. jarak antara rumah kakekku dengan rumah nenek isa memang dekat cuma 2 kiloan aja mungkin lagian seluruh orang benjala waktu itu masih mengambil air di buhung la’bua tadi jadi informasi itu gampang tersebar.

yach akhirnya setelah shalat jumat aku dibawah oleh kakekku ke rumah nenek isa untuk mengambil semua barang-barang hasil curianku dan selanjutnya aku bawa kerumah kakekku. sesampai disana setelah aku diinterogasi akhirnya aku pergi kerumah ibuku dan itulah terakhir kalinya aku bertemu mereka semua setelah besok harinya saya langsung menuju kota Makassar untuk melanjutkan perjalan menggunakan kapal pelni menuju Balikpapan..

Aku memang pergi tanpa pamit ke bapakku dan juga mungkin tanpa restu begitu juga semua keluarga besar dari pihak bapakku, mungkin kali inilah aku bisa mengucapkan kata maaf kepada semua yang pernah aku sakiti baik dengan sengaja ataupun tidak sengaja dan saya ketemu bapakku lebih 10 tahun kemudian setelah saya mencuri barang-barangnya..

heeehmm………. buat cepupuku yang manis yang baca kisahku maafkan aku kalau kamu baru tahu bahwa aku memang maling dan tidak sebaik yang kamu kira.. thanks for all buat Nanna, Dewi n All deh…