Mantan Presiden Indonesia, Abdurrahman Wahid atau sering disapa dengan panggilan Gus Dur meninggal dunia. Gusdur dipastikan meninggal dunia, Rabu (30/12) pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo (RSCM).

Adik kandung Gus Dur, Solahudin Wahid memastikan kabar duka cita tersebut, dengan mengatakan dalam wawancaranya di tvOne, bahwa ia menerima pesan pendek (SMS) dari RSCM. SMS itu berisi kematian kakaknya Gusdur, yang meninggal dunia pukul 18.45 WIB.

“Gus Dur dinyatakan wafat pada pukul 18.40 WIB sedang saat sedang dipersiapkan disemayamkan,” kata sekretaris pribadi Gus Dur, Sulaeman seperti dilansir Antara.

Menurutnya, Gus Dur mengalami tanda-tanda kritis sejak Rabu siang dan didampingi seluruh keluarga dekat dan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Tanda-tanda kritis tersebut telah dilaporkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sehingga Presiden segera bergegas ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) pukul 18.30 WIB dan keluar setengah jam kemudian (19.00 WIB).

Saat ini para dokter RSCM sedang melakukan jumpa pers untuk memberikan keterangan atas wafatnya Gus Dur. Presiden SBY juga akan memberi keterangan atas wafatnya Gus Dur yang merupakan “bapak Bangsa” Indonesia.

Isak tangis yang cukup keras terdengar di sela-sela prosesi pemakaman Gus Dur di kompleks Ponpes Tebuireng, Jombang, Jatim, Kamis (31/12/2009) pukul 13.35 WIB.

Mereka yang menangis tidak hanya keluarga Gus Dur, namun juga para pria pengagum Gus Dur. Tangis mereka pecah karena tak kuat menahan emosi. Gus Nuril Huda, salah seorang pengurus PBNU, menangis sesenggukan sembari mengangkat tangan tangannya tanda hormat. Seorang pria berbaju putih menangis dengan suara keras.

Suasana memang mengharu biru. Suara takbir dan tahlil terdengar. Apalagi saat lagu Gugur Bunga berkumandang. Presiden SBY memimpin upacara pemakaman ini dengan mengenakan setelan jas hitam.

Jenazah Gus Dur saat ini telah dimasukkan ke liang lahat. Menantu Gus Dur, Dhohir Farisi, turut menurunkan jenazah ke tempat peristirahatan. Istrinya, Yenny Wahid, tak kuasa membendung rasa sedih. Dia memegang erat-erat bahu suaminya, yang kemudian duduk di pinggir liang kubur, agar tidak terjatuh pingsan. Wajahnya sembab oleh air mata.

sekilas siapa gusdur..

Jakarta – Mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah wafat dalam usia 69 tahun, Rabu (30/12) sore. Sebelum meninggal pukul 18.45 WIB, Gus Dur sempat bercerita kepada salah satu orang dekatnya soal pengalaman spiritual yang dialami.

Menurut Gus Dur, saat berziarah ke makam kakeknya KH Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng, Jombang, ia sempat bertemu dan berkomunikasi dengan kakeknya, Mbah Hasyim (KH Hasyim Asyari, pendiri NU).

“Gus Dur bercerita kepada saya, saat ziarah ke makam Mbah Hasyim, Gus Dur ditemui Mbah Hasyim. Gus Dur bercerita soal pengalamannya dengan tenang dan senang wajahnya,” ungkap sumber yang tak mau disebutkan namanya, Rabu (30/12).

Menurut orang yang selalu menemani Gus Dur ini, dalam percakapannya dengan Mbah Hasyim, Gus Dur mengaku dikasihani. Gus Dur pun hanya tersenyum saat dibilangi kakeknya tersebut.

“Gus Dur bilang, ‘Mbah Hasyim kasian sama saya mas’. Mbah Hasyim mengatakan, Le, kok tugasmu bersih-bersih terus yo? Sing sabar yo? (Nak, kok tugasmu bersih-bersih terus ya? Yang sabar ya?),” kata sumber itu menirukan Gus Dur.

Sayangnya, lanjut sumber itu, Gus Dur tidak melanjutkan lagi ceritanya soal pertemuan dengan Mbah Hasyim. Gus Dur langsung mengalihkan ke pembicaraan lainnya.

Sementara menurut tim dokter Kepresidenan, Gus Dur meninggal dunia pukul 18.45 WIB. Gus Dur mengalami komplikasi dan kritis pada pukul 18.15 WIB sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

“Dengan ini kami beritahukan bahwa Gus Dur telah meninggal dunia pada hari Rabu 30 Desember pukul 18.45 WIB,” ujar dr Jusuf Misbach dari tim dokter Kepresidenan di RSCM, Jakarta Pusat, Rabu (30/12).

Jusuf menambahkan Gus Dur dirawat sejak 26 Desember 2009 lalu dan kondisinya sempat membaik. “Namun pada Rabu hari ini pukul 11.30 WIB kondisinya memburuk dengan komplikasi penyakit stroke, diabetes, jantung dan pada pukul 18.15 WIB kondisinya kritis. Tepat pukul 18.45 WIB beliau meninggal,” ungkapnya.

SBY Datang Sebelum Gus Dur Meninggal
Sebelumnya, saat perawatan di RSCM kondisi kesehatan Gus Dur dikabarkan kritis Rabu (30/12) sore. Presiden SBY pun menjenguk Gus Dur di RSCM. Kabarnya, SBY mengunjungi Gus Dur di RSCM karena mendapat laporan dari tim dokter yang merawat mantan presiden RI tersebut sedang kritis.

“Kabarnya Beliau (Gus Dur) sedang kritis makanya Pak SBY langsung menjenguk Gus Dur,” kata sumber di Istana Kepresidenan yang tidak mau disebutkan namanya, Rabu (30/12).

Menurutnya, SBY sudah berada di RSCM untuk menjenguk Gus Dur. Pengamanan di sekitar RSCM terlihat ketat. Sementara sumber di RSCM menjelaskan bahwa kedatangan SBY mengagetkan pengelola rumah sakit karena mendadak. Kedatangan SBY memang tidak terjadwal sebelumnya.

Dengan demikian, Presiden SBY menyaksikan detik-detik terakhir menjelang Gus Dur meninggal. “Pak SBY tiba sekitar pukul 18.00 WIB dan pulang sekitar pukul 19.00 WIB,” ujar kerabat Gus Dur yang menolak disebutkan namanya di RSCM.

Selain SBY, sejumlah pejabat negara lainnya juga ada di saat-saat terakhir Gus Dur. Antara lain Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih. “Dari pihak keluarga ada di antaranya Mbak Yenny,” ungkapnya.

Sebelumnya, adik kandung Gus Dur, KH Salahuddin Wahid alias Gus Sholah, mengatakan Gus Dur menghembuskan nafas terakhirnya pukul 18.45 WIB. “Saya mendapat kabar beliau meninggal. Kabar yang saya terima beliau meninggal pada pukul 18.45 WIB,” ujar Gus Sholah.

SBY Batalkan Rencana Kerja
Presiden SBY membatalkan rencana kerjanya pada Kamis 31 Desember. Hal ini dilakukan untuk menghormati meninggalnya Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. “Rencananya besok Presiden akan melakukan kunjungan kerja ke Cipanas. Tapi acara itu dibatalkan untuk menghormati meninggalnya Gus Dur,” kata Staf Khusus Presiden Bidang Bencana, Andi Arief di RSCM.

Hingga pukul 20.15 WIB, sejumlah tokoh terus berdatangan ke RSCM. Mereka antara lain Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmy Faishal Zaini, budayawan Romo Mudji Soetrisno dan politisi PKB Lukman Edi.

Sementara itu anggota keluarga masih berada di dalam ruangan tempat jenazah Gus Dur berada di gedung Pelayanan Jantung Terpadu. Suasana haru masih sangat terasa. Para anggota keluarga tak mampu menyembunyikan kesedihan atas berpulangnya tokoh bangsa itu.

Presiden SBY pun menggelar rapat mendadak dengan beberapa menteri di Istana Negara, untuk membahas prosesi pemakaman Gus Dur. “Sejumlah menteri terkait diminta datang. Salah satunya Menkes yang akan mengkonfirmasikan kondisi terakhir dan kapan tepatnya Gus Dur tutup usia,” ujar Jubir Kepresidenan Julian Aldrin Pasha di Istana Negara, Rabu (30/12).

Menurut Julian, akan dibicarakan prosesi pemakaman bagi Gus Dur sebagai mantan Presiden RI sesuai dengan kelaziman. “Termasuk kemungkinan untuk pengibaran bendera setengah tiang selama seminggu penuh. Saya pikir ini wajar, karena Gus Dur seoerang tokoh besar,” jelasnya sembari menambahkan, SBY akan memberikan pernyataan resmi terkait kematian Gus Dur pada pukul 21.00 WIB.

Biografi Gus Dur
Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur menjabat Presiden ke-4 RI mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001. Beliau lahir tanggal 4 Agustus 1940 di desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang pendiri organisasi besar Nahdlatul Ulama, yang bernama KH. Wahid Hasyim. Sedangkan Ibunya bernama Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Dari perkawinannya dengan Sinta Nuriyah, mereka dikarunia empat orang anak, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari .

Sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu beliau juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku. Di samping membaca, beliau juga hobi bermain bola, catur dan musik. Bahkan Gus Dur, pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.

Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, beliau bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian beliau menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Beliau kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak.

Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.

Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin. Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap `menyimpang`-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Beliau juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987.

Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-`aqdi yang diketuai K.H. As`ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Selama menjadi presiden, tidak sedikit pemikiran Gus Dur kontroversial. Seringkali pendapatnya berbeda dari pendapat banyak orang